Peribahasa “tak kenal maka tak sayang” memang benar adanya. Tetapi tidak benar-benar kenal. Karena kenal yang melahirkan sayang hanyalah kenal sekadarnya.

Saat kita lihat trailer sebuah film, apakah itu berarti kita telah mengenal film itu? Bisa dikatakan seperti itu, karena kalau kita tidak pernah lihat, kita tidak pernah kenal. Dari lihat trailer, mungkin kita akan suka dengan film itu, apalagi yang ditampakkan hanya yang keren-kerennya saja. Kita mungkin akan memujinya setengah mati, dan merekomendasikannya ke teman-teman atau mengajak mereka untuk menonton, meskipun nunggu tayang di google atau bahkan di youtube.

Setelah menonton filmnya, mungkin ada yang kecewa, padahal dia lebih kenal film itu daripada saat cuma lihat trailernya. Atau ada yang mungkin ketagihan. Lalu nonton lagi. Masih kurang, nonton lagi. Sampai berapa kali? Untuk zaman sekarang, saya yakin tidak akan ada yang suka nonton film kali ketiga seperti sukanya ketika ia nonton di kali pertama. Apalagi kali kesepuluh.

Begitu juga baca buku, pergi ke tempat wisata, bahkan terhadap sesuatu yang mencandu. Jika seseorang nonton bokep dan suka, dia akan mencari bokep lain yang walau sejenis atau pemerannya sama. Atau rokok. Jika ada produk baru yang ia sangat terpukau dengan rasanya, mungkin hanya sebungkus ia merasakan sensasinya. Selanjutnya hanya akan menjadi rutinitas saja, seperti tidak enak kalau tidak makan mie instan di malam hari.

Mengapa ini terjadi? Karena pertama kali kita mengetahui sesuatu dan suka, logika kita lenyap entah ke mana. Mungkin ini yang Anda maksud dengan kenal. Tapi begitu kita lebih mengenalnya, dan semakin mengenalnya, kita jadi sadar, kita ada di kehidupan nyata.

Demikian pula soal asmara. Ada orang yang logikanya hilang terlalu lama karena belum juga mengenal pasangannya. Padahal, pasangannya sudah menyudahi segala pernak-pernik keindahan berasmara. Kalimat “i love you” yang tak pernah dijawab, atau kecupan manis yang pernah tersambut.

Justru orang tanpa logika inilah yang lebih besar cintanya, karena cinta tidak pernah bisa bergandeng dengan logika. Itu makanya, kisah Laila dan Majnun begitu abadi dan melegenda. Mungkin hanya orang belum sadar dan menganggapnya cuma dongeng, padahal justru itulah yang realita.

Tatkala seseorang sudah kenal dengan yang dicintainya, maka yang dicintainya itu akan menjadi tuntutannya. Gayung menyambut barangkali hanya sebagai “nggak enak aja”, itu masih mending daripada di sisi lain ada yang sampai membentak, mencaci, menghina, berujar “kamu tidak seperti yang dulu”, atau “ternyata aku salah memilihmu”, dan naudzubillah kalau sampai habis manis sepah dibuang.

Kita juga tidak bisa menuntut apa pun, karena kita akan terus dituntut. Lupakan cinta ketika ini, dan ingat tanggung jawab. Sebab jika hanya cinta yang kauharapkan, kau harus tahu bahwa cinta yang bertepuk sebelah tangan lebih menyakitkan daripada tertusuk seribu pedang. Benarkah? Ya enggak lah. Kita berbicara tentang logika. Kecuali kalau kita berbicara tentang cinta. Ya, itulah yang sesungguhnya terjadi.

News forums“Korupsi Ahok” Kembali Beredar

Mau Masuk BUMN, Buku “Korupsi Ahok” Kembali Beredar

15 November 2019

http//Whassapp.website.co.in

Tentang Komentar Buku “Korupsi Ahok” Kembali Beredar, Mau Masuk BUMN

Situasi yang mengiringi wacana penempatan Basuki Tjahaja Purnama menjadi petinggi di salah satu BUMN, soft file buku “Usut Tuntas Dugaan Korupsi Ahok: Menuntut Keadilan untuk Rakyat” yang ditulis Marwan Batubara kembali beredar luas di jejaring media sosial.

Buku itu diberi kata pengantar oleh mantan Ketua MPR RI Amien Rais.

Buku yang diterbitkan Yayasan Pengkajian Sumberdaya Indonesia (YPSI) pada tahun 2017 lalu itu sempat bikin heboh, karena di dalamnya dituliskan tentang berbagai dugaan kasus korupsi yang melibatkan Ahok selama dirinya bertugas sebagai Wakil Gubernur dan Gubernur DKI Jakarta antara periode 2012 hingga 2017.

Kasus-kasus yang dibicarakan Marwan Batubara di dalam bukunya itu antara lain yang terkait dengan tukar guling lahan RS Sumber Waras di Jakarta Barat, kasus lahan Taman BMW, kasus tanah Cengkareng Barat, penyelewengan dana CSR, penyimpangan dana non budgeter, dan kasus reklamasi Teluk Jakarta.

Di antara kasus-kasus itu juga ada satu kasus yang diduga melibatkan Ahok saat dirinya masih menjabat sebagai Bupati Belitung Timur.

Di dalam buku itu juga ada satu bab khusus yang membahas tentang metode penggusuran yang dilakukan Ahok selama berkuasa di Jakarta. Disebutkan bahwa di era Ahok lah terjadi penggusuran paling brutal dalam sejarah republik.

Sementara kalangan di tubuh pemerintahan baru Joko Widodo memang berupaya untuk melibatkan Ahok dalam pengelolaan BUMN tertentu. Belum pasti benar, BUMN yang mana.

Kabar yang berkembang luas menyebutkan, BUMN yang mungkin akan dimasuki Ahok adalah Pertamina, PLN, Pindad.

Ada juga kabar yang mengatakan, kemungkinan ia akan ditugaskan ke Garuda Indonesia.

Informasi lain yang diperoleh mengatakan, keinginan sementara kalangan yang ingin melibatkan Ahok itu tidak diterima sepenuhnya oleh kalangan lain di dalam pemerintahan.

Ada juga di kalangan pemerintahan yang menganggap Ahok dan kredibilitasnya akan membuat golden period pemerintahan baru ini akan sangat terganggu.

Relegius

Mestinya, Sukmawati tidak membandingkan Rasul dengan Bung Karno, agar publik tidak terjebak pada pandangan hitam putih.

Tapi begitulah Sukmawati, ia mewakili tokoh nasionalisme murni. Dan tentu akan berhadapan dengan tokoh khilafah atau religius murni.

Bersyukurlah masih ada tokoh semisal Gus muwafiq NU, Syafii Maarif Muhammadiah, dan Kang Jalal Syiah, dll. Mereka semua adalah tokoh2 Nasionalisme religius. Mereka yang melihat bhw Bung Karno adalah gradasi Rasul, Pancasila adalah gradasi Quran, dan Demokrasi adalah perwujudan khilafah islam.

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai